PENGGEMUKAN SAPI POTONG

Oleh :
Pararto Wicaksono, SP
Balai Besar Pelatihan Peternakan – Batu

1. Pendahuluan
Jenis-jenis sapi potong di Indonesia cukup beragam, baik dari jenis lokal atau dari luar negeri , misalnnya : Sapi Bali, Sapi Madura, Sapi Ongole (Sumba Ongole dan Peranakan Ongole), Sapi Brahman, Sapi (Abeerden) Angus, Sapi Limousin, Sapi Brangus (persilangan Abeerden Angus dengan Brahman), Sapi Simental, dan lain sebagainya. Sapi sapi tersebut mempunyai karakteristik dan ciri-ciri tertentu.
Pada umumnya, sapi potong/pedaging mempunyai syarat-syarat atau ciri-ciri sebagai berikut : bentuk tubuh padat, dalam dan lebar, kaki pendek dan kekar, leher dan bahu tebal, kepala pendek dan dahinya lebar, punggung dan pinggang lebar, dan dada lebar.
Untuk pemilihan sapi bakalan yang akan digemukkan perlu diperhatikan beberapa hal sebagaia berikut : umumnya berkelamin jantan, berumur 2 – 2,5 tahun atau 2 pasang giginya sudah tanggal (poẻl). Bobot badan antara 250-3000 kg, berdada lebar, berdada lebar, berkulit licin atau klimis, tulang atau rangka tubuh besar, gelambir leher pendek, bentuk tubuh proporsional (empat persegi panjang yang serasi), posisi kaki dan badan saat berdiri tegap, sehat, tidak cacat, tanduk kecil atau pendek (tidak terlalu besar).

2. Pemeliharaan
     a. Perkandangan
Kandang dapat dibuat dengan menyesuaikan kondisi, baik jenis/model, bahan atau ukurannya. Secara umum untuk usaha pemeliharaan sapi potong, kandang mempunyai persyaratan sebagai berikut : membenri kenyamana bagi sapi yang digemukkan; memenuhi persyaratan kesehatan bagi sapi; memiliki ventilasi dan sirkulasi/pertukaran udara yang sempurna, termasuk sinar matahari; mudah dibersihkan; memberi kemudahan bagin peternak atau pekerja dalam melaksanakan pekerjaanya (misal untuk memberi pakan atau membersihkan kandang, dan lain sebagainya); bahan–bahan kandang tahan lama dan kuat dan biaya yang relatif murah.

b. Pakan
Pakan utama sapi adalah hijauan baik itu jenis rumput-rumputan atau jerami. Hijauan pakan ternak sebagai pakan utama sapi ada 4 (empat) jenis, yaitu hijauan segar, hijauan kering, rambanan, limbah pertanian (berdasarkan urutan mutu kandungan gizinya). Hijauan segar ini dapaat dperoleh dari lapangan (ngarit) atau dari lahan rumput (rumput produksi).
Contoh rumput produksi adalah rumput gajah yang mempunyaai bermacam-macam varietas. Rumput ini memiliki kelebhan antara lain produksi bisa mencapai 250 ton/Ha/tahun, kadar protein cukup tinggi, agak tahan kering dan disukai ternak.
Penanaman rumput ini biasaanya secara vegetatif yaitu menggunakan sobekan rumpun (pols) dan batang (stek). Dipilih yang sudahb tua (lebih dari 2 bulan), minimal 2 ruas batang.
Pemeliharaan meliputi penyulaman dan pemupukan dengan dosis 600 kg/ha setiap panen. Rumput dapat dipotong setelah umur 50 hari.
Rambanan atau leguminosa sangat beragam antara lain daun lamtoro, daun turi, kaliandra, dan gamal. Biasanya penggunaannya tidak terlalau banyak, hanaya sebagaia campuran saja.
Limbah pertanian juga bermacam-macam, yang paling sering digunakan misalnya jerami padi, tebon, pucuk tebu, daun singkong, dan daun kacang. Untuk jerami padi yang mempunyai kandungan gizi rendah dan sulit dicernaa, diperlukan penanganan khusus agar bisa dimanfaatkan oleh ternak. Caranya adalah dengan amoniasi/ureasi jerami padi, yaitu dengan menamabahkan pupuk urea dengana dosiis tertentu pada jerami, setelah jangka waktu tertentu (minimal 14 hari) akan diperoleh struktur jerami yang lebih lemasdan disukai ternak.
Untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik ditambahkan konsentrat atau makanan penguat. Tujuan dari penambahan konsentrat ini adalah untuk meningkatkan gizi dari hijauan yang dimakan ternak.
Secara umum, konsentrat ada dua macam yaitu : konsentrat sebagai sumber energi. Sebagai contoh adalah dedak padi/katul, pollard, singkong, onggok (limbah industri tapioka), jagung, dan lain sebagainya. Kedua adalah konsentrat sebagai sumber protein. Sebagai contoh adalah : ampas tahu, kulit ari kedelai, kulit kacang, bungkil kedelai, bungkil kacang, tepung ikan, tepung daging, dan tepung darah.
Pada sapi yang digemukkan, makanan yang diberikan bertujuan untuk membentuk daging dan lemak dalam daging sehingga konsentrat yang digunakan harus mengandung energi/karbohidrat dan protein yang banyak.
Biasanya perbandingan hijauan dan konsentrat untuk sapi potong adalah 80% hijauan dan 20% konsentrat. Yang dimaksudkan disini adalah 80% energi + protein dari hijauan dan 20% dari konsentrat. Susunan pakan yangt digunakan dapat disesuaikan dengan ketersediaan bahan pakan yang ada di daerah dan mempertimbangkan juga harga/nilai ekonomis.
Kebutuhan air minum untuk sapi 30 liter/hari terutama di musim kemarau air bersih harus selalu tersedia, air minum bisa diberikan 2 kali 2 kali sehari baik dengan dicampur konsentrat (combor) atau tanpa campuran.
Contoh susunan pakan untuk sapi potong adalah sebagai berikut :
1. Diketahui Bobot Badan (BB) sapi bakalan 400 kg, dibutuhkan pakan 10% BB = 40 kg, diperoleh dari : 35 kg rumput; 3 kg dedak halus/katul; 2 kg ampas tahu. Pertambahan Bobot Badan (BB) minimal yang diharapkan adalah 0,8 kg/hari.
2. Berdasarkan pengalaman, sapi dengan BB 500 kg yang digemukkan dengan target Pertambahan Bobot Badan (PBB) 40 – 50 kg/bulan atau 1,3 – 1,6 kg/hari bisa diperoleh dengan pemberian pakan dengan susunan sebagai berikut : rumput gajah 40 kg; jerami 12 kg; tetes 0,8 kg; dedak halus 4 kg dan pollard 1 kg.
Untuk mengetahui PBB yang diharapkan, apabila tidak memiliki timbangan, peternak bisa menggunakan perkiraan bobot badan yang diperoleh dengan cara menggunakan pita ukur (meteran) yaitu dengan mengukur Lingkar dada (LD) dan Panjang Badan (PB) sapi. Rumus yang digunakan antara lain : menurut R. Scroll : (LD cm + 22)2 : 100. Sedangkan menurut R. Joy : LD2 cm + PB cm : 10400

3. Kesehatan
Ternak yang dipelihara untuk tujuan apapun harus diperhatikan kesehatannya agar tidak terjangkit penyakit. Penyakit ternak ada 3 golongan yaitu :
a. Penyakit parasit (misalnya : cacing, kutu, caplak)
b. Penyakit menular
c. Penyakit tidak menular
Untuk menghindari timbulnya penyakit, dapat dilakukan dengan tindakan pencegahan seperti :
a. Menghindari genangan air kotor dalam kandang;
b. Segera memisahkan sapi yang sakit dari sapi yang sehat;
c. Mengadakan pembersihan kandang dan alat kandang secara teratur;
d. Segera mengobati luka pada ternak dengan desinfektan (misalnya betadine, poridoniodine, dll)
e. Menghubungi dinas peternakan atau dokter hewan untuk mendapat petunjuk.
Adapun ciri-ciri ternak yang sehat antara lain:
a. Waspada atau tanggap;
b. Nafas normal 12 – 16 kali bernafas/menit;
c. Suhu tubuh +39o C
d. Detak jantung 45 detak/menit;
e. Nafsu makan baik (dokoh);
f. Berak dan kencing normal;
g. Bergerak/bergaul normal dengan kawan-kawannya.

Semoga artikel ini bermanfaat.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s